Pahlawan Nasional
Pahlawan
Nasional asal Kalsel,
Pangeran
Antasari dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang sangat gigih melawan penjajah
Belanda
Selain itu, pada
peringatan ke 148 tahun wafatnya Pahlawan Nasional Antasari, dia juga
dikenal pribadi yang besar dan seorang ahli strategi perang grilya yang mampu
memimpin dan menggerakan para pengikutnya dalam mencapai tujuan bersama.
pada peringatan wafatnya Pangeran Antasari tahun 2010 adalah “Melalui peringatan wafatnya Pangeran Antasari ke-148 tahun, tanamkan dan tumbuhkan semangat serta keikhlasan dalam meneruskan membangun Kalimantan Selatan.”. Dengan mewarisi dan meneladani semangat dan keikhlasan Pangeran Antasari dalam memperjuangkan kemerdekaan.Dengan motivisi dan inspirasi itulah seharusnya kita semua merasa terpanggil untuk mengaktualisasikan semangat dan nilai-nilai kejuangan yang pernah dikobarkan para pahlawan terutama dalam kaitan mewujudkan cita-cita kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegera, ajak bupati. Kewajiban untuk mengaktualisasikan semangat dan nilai-nilai kejuangan menjadi semakin penting, lanjut dia, di saat dihadapkan pada berabagai persoalan bangsa, dimana sebagai bagian integral dari NKRI persoalan bangsa juga berpengaruh terhadap kondisi politik, ekonomi, sosial, budaya, serta keamanan di daerah.
pada peringatan wafatnya Pangeran Antasari tahun 2010 adalah “Melalui peringatan wafatnya Pangeran Antasari ke-148 tahun, tanamkan dan tumbuhkan semangat serta keikhlasan dalam meneruskan membangun Kalimantan Selatan.”. Dengan mewarisi dan meneladani semangat dan keikhlasan Pangeran Antasari dalam memperjuangkan kemerdekaan.Dengan motivisi dan inspirasi itulah seharusnya kita semua merasa terpanggil untuk mengaktualisasikan semangat dan nilai-nilai kejuangan yang pernah dikobarkan para pahlawan terutama dalam kaitan mewujudkan cita-cita kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegera, ajak bupati. Kewajiban untuk mengaktualisasikan semangat dan nilai-nilai kejuangan menjadi semakin penting, lanjut dia, di saat dihadapkan pada berabagai persoalan bangsa, dimana sebagai bagian integral dari NKRI persoalan bangsa juga berpengaruh terhadap kondisi politik, ekonomi, sosial, budaya, serta keamanan di daerah.
Pada tanggal
19 Juli 2008 saya, permaisuri dan Firman mengunjungi rumah Dewi
Sartika…Pahlawan Wanita Dari Tanah Sunda………… Kami tidak bisa
masuk memang…..Namun dari luar suasananya mencerminkan kearifan beliau itu
masih ada……Sayang kami tidak bisa lama di sana….Maklum tempat tersebut belum
dibuka untuk umum…….
Dewi Sartika (Bandung, 4 Desember 1884 – Tasikmalaya,
11 September 1947), tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan, diakui
sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966.
Dewi Sartika dilahirkan dari keluarga priyayi Sunda,
Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Meski melanggar adat saat itu, orang
tuanya bersikukuh menyekolahkan Dewi Sartika, ke sekolah Belanda pula.
Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya (kakak ibunya) yang
berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapatkan
didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolehnya
dari berkat didikan seorang nyonya Asisten Residen bangsa Belanda.
Sejak kecil,
Dewi Sartika sudah menunjukkan bakat pendidik dan kegigihan untuk meraih
kemajuan. Sambil bermain di belakang gedung kepatihan, beliau sering
memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis, dan bahasa Belanda,
kepada anak-anak pembantu di kepatihan. Papan bilik kandang kereta, arang, dan
pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.
Setahun
kemudian, 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga kemudian pindah ke Jalan
Ciguriang, Kebon Cau. Lokasi baru ini dibeli Dewi Sartika dengan uang tabungan
pribadinya, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung. Lulusan pertama
keluar pada tahun 1909, membuktikan kepada bangsa kita bahwa perempuan memiliki
kemampuan yang tak ada bedanya dengan laki-laki. Tahun 1910, menggunakan
hartanya pribadi, sekolahnya diperbaiki lagi sehingga bisa lebih mememnuhi
syarat kelengkapan sekolah formal.
Dewi Sartika
meninggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dengan suatu upacara
pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam. Tiga
tahun kemudian dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan
Karang Anyar, Bandung.
Dilahirkan
dari keluarga Kesultanan Yogyakarta, memiliki jiwa kepemimpinan dan
kepahlawanan. Hatinya yang bersih dan sebagai seorang pangeran akhirnya
menuntunnya menjadi seorang yang harus tampil di depan guna membela kehormatan
keluarga, kerajaan, rakyat dan bangsanya dari penjajahan Belanda.
Namun resiko
dari kebersihan hatinya, ia ditangkap oleh Belanda dengan cara licik, rekayasa
perundingan. Namun walaupun begitu, beliau tidak akan pernah menyesal karena
beliau wafat dengan hati yang tenang, tidak berhutang pada bangsanya,
rakyatnya, keluarganya, terutama pada dirinya sendiri.
Kejujuran, kesederhanaan, kerendahan hati, kebersihan
hati, kepemimpinan, kepahlawanan, itulah barangkali sedikit sifat yang
tertangkap bila menelusuri perjalanan perjuangan Pahlawan kita yang lahir di
Yogyakarta tanggal 11 November 1785, ini.
Namun
sebaliknya, beliau juga akan memperjuangkan sampai mati apa yang menurut beliau
menjadi haknya. Sifatnya ini jelas terlihat jika memperhatikan sikap beliau
ketika melihat perlakuan Belanda di Yogyakarta sekitar tahun 1920. Hatinya
semakin tidak bisa menerima ketika melihat campur tangan Belanda yang semakin
besar dalam persoalan kerajaan Yogyakarta. Berbagai peraturan tata tertib yang dibuat
oleh Pemerintah Belanda menurutnya sangat merendahkan martabat raja-raja Jawa.
Sikap ini juga sangat jelas memperlihatkan sifat kepemimpinan dan kepahlawanan
beliau.
Karena
berbagai cara yang dilakukan oleh Belanda tidak pernah berhasil, maka permainan
licik dan kotor pun dilakukan. Diponegoro diundang ke Magelang untuk berunding,
dengan jaminan kalau tidak ada pun kesepakatan, Diponegoro boleh kembali ke
tempatnya dengan aman. Diponegoro yang jujur dan berhati bersih, percaya atas
niat baik yang diusulkan Belanda tersebut. Apa lacur, undangan perundingan
tersebut rupanya sudah menjadi rencana busuk untuk menangkap pangeran ini.
Dalam perundingan di Magelang tanggal 28 Maret 1830, beliau ditangkap dan
dibuang ke Menado yang dikemudian hari dipindahkan lagi ke Ujungpandang.
Setelah
kurang lebih 25 tahun ditahan di Benteng Rotterdam, Ujungpandang, akhirnya pada
tanggal 8 Januari 1855 beliau meninggal. Jenazahnya pun dimakamkan di sana.
Beliau wafat sebagai pahlawan bangsa yang tidak pernah mau menyerah pada
kejaliman manusia.
Tuanku Imam
Bonjol (TIB) (1722-1864), yang diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkam
SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, 6 November 1973, adalah pemimpin utama
Perang Paderi di Sumatera Barat (1803-1837) yang gigih melawan Belanda.
Selama 62
tahun Indonesia merdeka, nama Tuanku Imam Bonjol hadir di ruang publik bangsa:
sebagai nama jalan, nama stadion, nama universitas, bahkan di lembaran Rp 5.000
keluaran Bank Indonesia 6 November 2001.
Namun, baru-baru ini muncul petisi, menggugat gelar
kepahlawanannya. TIB dituduh melanggar HAM karena pasukan Paderi menginvasi
Tanah Batak (1816-1833) yang menewaskan “jutaan” orang di daerah itu.
Kekejaman
Paderi disorot dengan diterbitkannya buku MO Parlindungan, Pongkinangolngolan
Sinamabela Gelar Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak,
1816-1833 (2006) (Edisi pertama terbit 1964, yang telah dikritisi Hamka, 1974),
kemudian menyusul karya Basyral Hamidy Harahap, Greget Tuanku Rao (2007).
Kedua
penulisnya, kebetulan dari Tanah Batak, menceritakan penderitaan nenek
moyangnya dan orang Batak umumnya selama serangan tentara Paderi 1816-1833 di
daerah Mandailing, Bakkara, dan sekitarnya (Tempo, Oktober 2007).
Raden Ajeng Kartini (1879-1904)
Door
Duistermis tox Licht, Habis
Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng
Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di
negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari
seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya
pada zamannya.
Buku itu
menjadi pedorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan
hak-haknya. Perjuangan Kartini tidaklah hanya tertulis di atas kertas tapi
dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan
Rembang.
Di era
Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum
memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk
memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan
menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.
Kartini yang
merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan
sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan
beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan
kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di
hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.
Pada saat
itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21
April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang
lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh
orang tuanya.
Berbagai
rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah
menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara
yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah
itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah
Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta,
Malang, Madiun, dan Cirebon.
Setelah
meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan
menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot
Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat
berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan
tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di
kemudian hari.
Apa yang
sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan
bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan
dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun
Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni
pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya.
Mengingat
besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan
Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan
Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang
menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan
hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai
hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
Biografi
Biografi
Nama: Raden
Ajeng Kartini
Lahir: Jepara, Jawa Tengah, tanggal 21 April 1879
Meninggal: Tanggal 17 September 1904, (sewaktu melahirkan putra pertamanya)
Suami: Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang
Pendidikan: E.L.S. (Europese Lagere School), setingkat sekolah dasar
Lahir: Jepara, Jawa Tengah, tanggal 21 April 1879
Meninggal: Tanggal 17 September 1904, (sewaktu melahirkan putra pertamanya)
Suami: Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang
Pendidikan: E.L.S. (Europese Lagere School), setingkat sekolah dasar
Prestasi:
- Mendirikan sekolah untuk wanita di Jepara
- Mendirikan sekolah untuk wanita di Rembang
- Mendirikan sekolah untuk wanita di Jepara
- Mendirikan sekolah untuk wanita di Rembang
Kumpulan
surat-surat:
- Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).
- Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).
Penghormatan:
- Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional
- Hari Kelahirannya tanggal 21 April ditetapkan sebagai hari besar
- Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional
- Hari Kelahirannya tanggal 21 April ditetapkan sebagai hari besar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar